select a language

Tampilkan postingan dengan label kisah nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah nabi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2012

Misteri Borobudur : Peninggalan Nabi Sulaiman

Lovers Of Islam--Membincangkan candi Borobodur, bagi masyarakat Indonesia, akan selalu menarik. Bukan saja karena merupakan peninggalan budaya yang amat bersejarah dan speltakuler, namun juga, tak dapat dimungkiri bahwa hingga dewasa ini masih banyak misteri yang melingkupi sekitar keberadaan candi tersebut. Borobodur seperti yang dipercayai masyarakat hingga kini adalah peninggalan  dari  kejayaan kerajaan Mataram Kuno (wangsa Syailendra) yang dibangun sekitar abad ke 8 hingga  ke 9, pada masa kekuasaan Raja Samaratungga. Selama 150 tahun Candi Borobudur menjadi pusat ziarah megah bagi penganut Budha. Akan tetapi, seiring dengan runtuhnya Kerajaan Mataram sekitar tahun 930 M, maka pusat kekuasaan dan kebudayaan di pindah ke Jawa Timur, hingga Borobudur pun terlupakan. Kemudian, dengan terjadinya gempa dan letusan gunung berapi, membuat candi melesak sehingga mempercepat

Selasa, 21 Februari 2012

anjuran-anjuran Rasulullah

Lovers Of Islam--Berikut ini anjuran-anjuran Rasulullah SAW yang mendorong umatnya untuk berakhlak mulia:

Abu Dzar RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dimana pun kamu berada. Iringilah kesalahan kamu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskan perbuatan buruk tersebut. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Jumat, 10 Februari 2012

Aisyah binti Abu Bakar, Sang Pendamping Rasulullah (3-habis)

Lovers Of Islam, Kamar Aisyah lebih banyak berfungsi sebagai sekolah, yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru untuk menuntut ilmu.

Bagi murid yang bukan mahramnya, Aisyah senantiasa membentangkan kain hijab di antara mereka. Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Alquran dan Sunnah.

Pasalnya, Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah sebagaimana ungkapannya ini, "Aisyah termasuk wanita yang banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi SAW. Sehingga para ahli hadits menempatkan dirinya pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas."

Aisyah binti Abu Bakar, Sang Pendamping Rasulullah (2)

Lovers Of Islam, Dengan kesederhanaannya, Aisyah juga menghabiskan hari-harinya dengan ibadah kepada Allah, seperti berpuasa Daud. Kesederhanaan juga tampak ketika kaum Muslimin mendapatkan kekayaan dunia, dan Aisyah mendapatkan 100 ribu dirham. Saat itu Aisyah berpuasa, tetapi uang itu semua disedekahkan tanpa disisakan sedikit pun.

Pembantu wanitanya mengingatkan Aisyah. "Tentunya dengan uang itu anda bisa membeli daging satu dirham buat berbuka," kata sang pembantu.

Aisyah menjawab, "Andai kamu mengatakannya tadi, tentu kuperbuat."

Begitulah, Aisyah tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan demi kezuhudan.

Aisyah KecilAisyah adalah putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Tamim bin Marrah bin Ka'ab bin Luay, yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berasal dari suku Quraisy At-Taimiyah Al-Makkiyah. Ayahnya adalah Ash-Shiddiq dan orang pertama yang memercayai Rasulullah ketika terjadi Isra' Mi'raj, saat orang-orang tidak memercayainya.

Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi, riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau Wa'id binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams. Aisyah pun digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana perkataannya, "Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam."

Ummu Ruman memberikan dua orang anak kepada Abu Bakar, yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Anak Iainnya, yaitu Abdullah dan Asma, berasal dan Qatlah binti Abdul Uzza, istri pertama yang dia nikahi pada masa jahiliyah.

Ketika masuk Islam, Abu Bakar menikahi Asma binti Umais yang kemudian melahirkan Muhammad, juga menikahi Habibah binti Kharijah yang melahirkan Ummu Kultsum. Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi diutus menjadi Rasul.

Ketika dakwah Islam dihambat oleh orang-orang musyrik, Aisyah melihat bahwa ayahnya menanggung beban yang sangat besar. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah, usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa Rasulullah membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.

Aisyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan Masjid Nabawi. Di kamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Di hati Rasulullah, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan itu tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, "Cinta pertama yang terjadi di dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah."

Hadist yang Diriwayatkan Aisyah

Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Alquran, hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Almustadrak, Alhakim mengatakan, bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah.

Abu Musa Al-Asy'ari mengatakan, setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah. Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Aisyah pun sering mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya.

Salah satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah. Ketika itu, Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh Fadhi ibnu Abbas, bahwa barangsiapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa.

Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Aisyah, Aisyah menjawab, "Rasulullah pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya." Setelah mengetahui hal itu, Abu Hurairah berkata, "Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits tersebut."

REDAKTUR : Ryan Agustian

Aisyah binti Abu Bakar, Sang Pendamping Rasulullah (1)

Lovers Of Islam, Rasulullah SAW membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah RA yang telah banyak dikenal. Aisyah laksana lautan luas dalam kedalaman ilmu dan takwa.

Di kalangan wanita, dialah sosok yang banyak menghapal hadits-hadits Nabi. Dan di antara istri-istri Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang tua Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah.

Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rasulullah SAW biasa memanggilnya dengan Humaira. Aisyah binti Abu Bakar berasal dari keturunan mulia suku Quraisy. Ketika ia berumur enam tahun, gadis cerdas ini dipersunting oleh manusia termulia, yakni Rasulullah SAW berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpinya.

Nabi SAW mengisahkan mimpi beliau kepada Aisyah, "Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata, ini adalah istrimu. Kemudian aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu, lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah."

Aisyah memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur sembilan tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah atau kenabian. Rumah kecil yang di samping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu. Sebab, hanya tikar kulit bersih, sabut, dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan) yang ada di rumah itu.

Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketaatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah SAW sangat mencintainya.

Aisyah menghibur Rasulullah SAW di kala sedih. Ia pun menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah SAW berdakwah di jalan Allah. Aisyah melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah SAW, sehingga ribuan hadits berhasil dihapalkannya. Aisyah juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan).

Selain keahliannya itu, Aisyah juga seorang wanita yang menjaga kesuciannya. Suatu ketika, sepulang dari Perang Hunain, saat mendekati kota Madinah, ia kehilangan perhiasan yang dipinjam dari Asma. Lalu dia turun untuk mencari perhiasan itu.

Rombongan Rasulullah dan para sahabatnya berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah menanti jemputan, dan tiba-tiba datanglah Sufyan bin Muathal seorang tentara penyapu ranjau. Melihat demikian, Sufyan turun dan mendudukkan kendaraanya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kemudian Aisyah naik kendaraan tersebut dan Sufyan menuntun kendaraan tersebut dengan berjalan kaki.

Dari kejadian ini, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya menyebarkan kabar bohong untuk memfitnah Aisyah. Fitnah itu menimbulkan goncangan dalam rumah tangga Rasulullah SAW, tapi Allah yang Maha Tahu berkehendak menyingkap berita bohong tersebut serta menyucikan beliau dalam Alquran.

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar."
(QS. An-Nuur: 11).

Di antara kelebihannya, Rasulullah SAW memilih untuk dirawat di rumah Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah dan dimakamkan di rumahnya tanpa meninggalkan harta sedikit pun. Ketika itu Aisyah berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah, Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Alquran dan hadits di balik hijab bagi kaum laki-laki pada masanya.

REDAKTUR : Ryan Agustian

Minggu, 05 Februari 2012

makna maulid nabi Muhammad SAW.

Loves Of Islam--
Nabi Muhammad SAW adalah nabi Ummat Islam di seluruh dunia. Beliau adalah Nabi akhir zaman. Penutup para Nabi. Khotamun Nabiyyin. Tidak akan ada nabi yang akan diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalahNya setelah Nabi Muhammad. Jabir pernah bertanya kepada Nabi Muhammad, ” Ya Rosulallah, Demi Ayah dan Ibuku, sampaikan pada saya tentang sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT sebelum menciptkan yang lain”. Nabi Menjawab, wahai Jabir, sesungguhnya Allah menciptkan Nur Nabimu Muhammad SAW sebelum menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini. Dan segala sesuatu di alam semesta ini adalah dari cahaya Nabi Muhammad SAW. Dan Nabi pernah bersabda, saya adalah Nabi yang diciptakan pertama kali dan diutus paling akhir.
Pada tanggal 12 Robiul Awwal 1423 H tepatnya hari ini tanggal 15 Februari 2011 kita memperingati hari kelahiran beliau. Nabi Muhammad lahir di kota Mekkah dan wafat di kota Madinah. Beliau lahir dengan penuh keajaiban-keajaiban. Di antara yang saya ketahui ketika lahirnya Nabi Muhammad seluruh pepohonan yang tidak pernah berbuah waktu itu langsung berbuah, api yang tak pernah padam dan menjadi sesembahan warga Majusi, ketika lahir nabi apa itu langsung padam. Ketika beliau lahir langsung sujud kepada Allah SWT. Ada lagi ketika beliau lahir sang ibu tak merasakan sakit sedikitpun. Tidak ada darah bercecer bekas melahirkan.

Makna Peringatan Maulid Nabi

Peringatan maulid adalah upaya mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tidak hanya mengingat hari lahir beliau. Tapi juga mengingat jasa-jasa beliau yang telah menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia termasuk kepada kita. Ingat juga pada sifat-sifatnya yang luhur budi, penyabar, rendah hati dan lain – lain. Sikapnya yang tegas menyebarkan dakwah Islam patut kita teladani. Makna peringatan maulid adalah menyegarkan kembali ingatan kita akan ajaran Nabi dan kita harus siap untuk melaksanakannya.
Memperingati hari lahir tidak boleh hanya sebagai kegiatan ritual semata. Tapi harus diaplikasikan atau diwujudkan dalam aktivitas nyata kita di kehidupan sehari-hari. Jika ada yang memperingati maulid dengan menyediakan makanan dan buah-buahan itu oke – oke saja dan tentu saja halal. Yang paling penting adalah niatnya. Karena segala sesuatu itu tergantung pada niat kita. Menyiapkan makanan dan buah-buahan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW tentu sangat baik. Niatnya tentu saja adalah untuk memperbanyak sedekah kepada orang yang kita undang untuk peringatan maulid. Jika kita mampu mengapa kita tidak ajak orang berkumpul sambil membaca shalawat setelah itu menghidangkan makanan ala kadarnya sesuai dengan kemampuan.
Dengan Peringatan Maulid Nabi bisa mengingatkan kita untuk selalu membaca shalawat ( doa keselamatan untuk Nabi ) karena membaca shalawat mengandung manfaat dan keutamaan. Silahkan baca-baca lagi posting saya sebelumnya tentang keutamaan membaca shalawat pada Nabi SAW. Semoga manfaat.

Kamis, 19 Januari 2012

Kisah Sahabat Nabi: Rabi'ah bin Ka'ab, Sahabat yang Rendah Hati

Lovers Of Islam-Di usia muda, jiwanya sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hatinya dipenuhi pengertian dan pemahaman tentang Islam.

Pertama kali berjumpa dengan Rasulullah saw, ia langsung jatuh cinta dan menyerahkan seluruh jiwa raganya; menjadi pendamping beliau. Kemana pun beliau pergi, Rabi'ah bin Ka'ab selalu berada di sampingnya.

Rabi'ah melayani segala keperluan Rasulullah sepanjang hari hingga habis waktu Isya' yang terakhir. Bahkan lebih dari itu, ketika Rasulullah hendak berangkat tidur, tak jarang Rabi'ah mendekam berjaga di depan pintu rumah beliau. Di tengah malam, ketika Nabi SAW bangun untuk melaksanakan shalat, seringkali ia mendengar beliau membaca Al-Fatihah dan ayat-ayat Alquran.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw, jika seorang berbuat baik kepadanya, maka beliau pasti membalasnya dengan lebih baik lagi. Begitulah, beliau membalas kebaikan Rabi'ah dengan kebaikan pula.

Pada suatu hari beliau memanggilnya seraya berkata, "Wahai Rabi'ah bin Ka'ab, katakanlah permintaanmu, nanti kupenuhi!"

Setelah diam sejenak, Rabi'ah menjawab, "Ya Rasulullah, berilah saya sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu, akan kuberitahukan kepada Anda."

"Baiklah kalau begitu," jawab Rasulullah.

Rabi'ah bin Ka'ab adalah seorang pemuda miskin, tidak memiliki keluarga, harta dan tempat tinggal. Ia menetap di Shuffatul Masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasibnya, yaitu orang-orang fakir dari kaum Muslimin. Masyarakat menyebut mereka "dhuyuful Islam" (tamu-tamu) Islam. Bila ada yang memberi hadiah kepada Rasulullah, maka biasanya beliau memberikannya kepada mereka. Rasulullah hanya mengambil sedikit saja.

Dalam hati, Rabi'ah bin Ka'ab ingin meminta kekayaan dunia agar terbebas dari kefakiran. Ia ingin punya harta, istri, dan anak seperti para sahabat yang lain. Namun, hati kecilnya berkata, "Celaka engkau, wahai Rabi'ah bin Ka'ab! Kekayaan dunia akan lenyap. Mengapa engkau tidak meminta kepada Rasulullah agar mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu?"

Hatinya mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya mohon agar engkau mendoakan kepada Allah agar menjadi temanmu di surga."

Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, "Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?"

"Tidak, ya Rasulullah. Tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaanku," jawab Rabi'ah bin Ka'ab mantap.

"Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri. Perbanyaklah sujud," kata Rasulullah.

Sejak itu, Rabi'ah bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana keuntungannya melayani beliau di dunia. Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilnya. "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?" tanya beliau.

"Saya tak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, saya tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup berumah tangga," jawab Rabi'ah.

Rasulullah diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau memanggil Rabi'ah kembali seraya bertanya, "Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi'ah?"

Dan Rabi'ah kembali menjawab seperti seperti semula. Hingga ketiga kalinya Rasulullah memanggil dan bertanya serupa. Rabi'ah menjawab, "Tentu, ya Rasulullah. Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi."

"Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka bahwa Rasulullah menyuruhmu kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau."

Dengan malu-malu Rabi'ah datang ke rumah mereka dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tuan rumah menjawab, "Selamat datang ya Rasulullah, dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!"

Rabi'ah bin Ka'ab kemudian menikah dengan anak gadis tersebut. Dan Rasulullah juga menghadiahkan sebidang kebun kepadanya, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Ash-Shiddiq. Suatu ketika, Rabi'ah sempat berselisih dengan Abu Bakar mengenai sebatang pohon kurma. Rabi'ah mengaku pohon kurma itu miliknya, sementara Abu Bakar juga mengakui hal yang sama.

Ketika perselisihan memanas, Abu Bakar sempat mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah sadar atas ketelanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, Abu Bakar menyesal dan berkata kepada Rabi'ah, "Hai Rabi'ah, ucapkan pula kata-kata seperti yang kulontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!"

Rabi'ah menjawab, "Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!"

"Akan kuadukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!" kata Abu Bakar, lalu pergi menemui Rasulullah SAW.

Rabi'ah mengikutinya dari belakang. Kerabat Rab'iah dari Bani Aslam berkumpul dan mencela sikapnya. "Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?" kata mereka.

Rabi'ah menjawab, "Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah "Ash-Shiddiq", sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum Muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar. Kemarahan mereka berdua adalah kemarahan Allah. Akhirnya, aku yang celaka?"

Mendengar kata-kata Rabi'ah, mereka pun pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah SAW dan menuturkan apa yang terjadi. Rasulullah mengangkat kepala seraya bertanya pada Rabi'ah, "Apa yang terjadi antara kau dengan Ash-Shiddiq?"

"Ya Rasulullah, beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya," jawab Rabi'ah.

Kata Rasulullah, "Bagus! Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi katakanlah, semoga Allah mengampuni Abu Bakar!"

Rabi'ah pun mengucapkan kata-kata itu. Mendengar kata-kata Rabi'ah, Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Rabi'ah." Mereka pun hidup rukun kembali.
Suka Lovers Of Islam ? Follow @dikutip